Belajar dari Telur, Wortel, Kopi dan Air

www.mengejarasa.com
Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh soal banyak permasalahan dalam kehidupannya. Namun betapa kagetnya dia karena ternyata ibunya diam saja seolah tidak ingin mendengarkan. Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur, sementara anaknya terus bercerita dan mengikutinya. Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama, air mendidih. Sang ibu menuangkan air panas mendidih itu kedalam 3 gelas yang telah disiapkan.

Di gelas pertama ia masukkan TELUR, di gelas kedua, ia masukkan WORTEL, dan di gelas ketiga, ia masukkan KOPI.

Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya: WORTEL yang KERAS menjadi LUNAK, TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS dan KOPI menghasilkan aroma yang Harum.

Sang ibu menjelaskan: “Nak, MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH. Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi Lembek seperti wortel, mengeras seperti telur, atau harum seperti kopi.

Jadi, wortel dan telur bukan mempengaruhi air … mereka malah berubah oleh air, sementara KOPI malah mengubah AIR, membuatnya menjadi harum.” Dalam tiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Allah swt seolah tidak kunjung datang?

Hari ini kita belajar ada 3 reaksi orang saat masalah datang: Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri sendiri. Ada yang mengeras, marah dan berontak pada Allah SWT. Ada juga yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA. Ada kalanya Allah sengaja menunda pertolonganNYA.

Apa tujuannya? Agar kita belajar percaya, yakin, sabar dan tidak banyak mengeluh, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Allah SWT beri penyelesaiannya. Teruslah bermunajat kepada Allah, perbaiki diri, dan renungkan, Allah cinta dengan Hamba yg tawadhu dan penuh rasa syukur..

oleh : Dr. Agus Setiawan, Lc.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Penyejuk hati yang dikutip dari salah satu pesan muhasabah di Grup Whatsapp

Belajar dari Bambu Cina

www.mengejarasa.com
Anda tahu pohon bambu cina? Jika anda termasuk orang yang tidak sabar menunggu pertumbuhan sebuah tanaman, mungkin pohon bambu tersebut sudah menjadi korban anda. Pohon bambu cina tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 6-7 tahun pertama, mungkin hanya tumbuh beberapa puluh cm saja. Namun setelah waktu tersebut, pertumbuhan pohon bambu cina tidak dapat dibendung, ia tumbuh begitu cepatnya dan ukurannya bukan lagi cm melainkan meter. Sebetulnya apa yang terjadi pada pohon bambu cina tersebut? 

Selama 6-7 tahun pertama, ia bukannya tidak mengalami pertumbuhan, hanya saja kita memang tidak melihat pertumbuhannya dengan kasat mata. Fokus pertumbuhan pohon bambu cina pada waktu tersebut adalah pada akar, bukan pada batang. Pohon bambu cina sedang menyiapkan pondasi yang kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter. Bayangkan apa yang terjadi jika pohon bambu cina tidak mempunyai akar yang cukup kuat untuk menopang ketinggiannya? Sedikit tiupan angin saja akan membuatnya tumbang. 

Jika anda seringkali mengalami kegagalan dan merasa kok jauh sekali dari kesuksesan yang anda impikan, bukan berarti anda tidak mengalami perkembangan. Justru anda sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri anda. Mental anda sedang ditempa dan dipersiapkan menuju kesuksesan anda. Sama halnya dengan pohon bambu cina tersebut. Jika anda hanya mengharapkan sebuah hasil yang instan, apapun itu, nasib anda akan seperti pohon bambu yang tidak memiliki akar yang kuat. Sedikit goncangan saja, anda akan jatuh begitu kerasnya. Jadi sekali lagi bersyukurlah dengan segala kemalangan dan kegagalan anda, anda akan memperoleh kekuatan karenanya
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Penyejuk hati yang dikutip dari salah satu pesan muhasabah di Grup Whatsapp

Re : Tak Berharap Tapi Meminta

www.mengejarasa.com
aku bukanlah seorang perempuan yang mudah berharap, namun aku berhak meminta kan? dan yang aku minta kamu pasti sudah memahaminya, karena kamu dari kecil sudah bersama mereka, kehidupanmu sekarang pun sama.. kamu pasti tahu seorang perempuan adalah pencerita yang baik, ketika dia menemukan orang yang mau mendengarnya saja pasti dia akan menceritakan apa yang dirasakannya.. ketika dia menemukan orang yang mampu menopang keletihannya maka dia akan menyandarkan tubuhnya.. ketika dia menemukan orang yang menawarkan hatinya untuk berlabuh saat badai kehidupan datang, maka dia akan menepi dan tinggal di sana.. ya, perempuan itu membutuhkan telinga yang mau mendengar, bahu yang lapang untuk bersandar, dan hati yang kuat dan menentramkan..

aku bukanlah seorang yang suka menunggu, namun aku juga bukan perempuan yang suka bertindak dahulu.. ku akui kontradiktif itu yang menyiksaku.. singkat aku hanya ingin tahu kabar saja kamu di sana, sembari bercerita apa yang yang sudah ku lakukan selama ini.. sederhana bukan? 

***
meja coklat, 16.01.15 - 17.12
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
potongan dari kumpulan cerita fiksi yang random, bersudut pandang orang pertama, yang muncul tanpa direncana dan mengalir begitu saja.. semoga bisa menjadi sebuah kumpulan aksara yang menempel dalam himpunan kertas dan terjejer rapi di rak buku sana..

Kenangan Yang Membayang

www.mengejarasa.com
aku memang yang suka memutar kembali rekaman kenangan, bukan tentang film ataupun clip.. namun kumpulan bayangan yang masih tersimpan rapi di dalam ingatan.. pernah ku coba untuk ku hapuskan, karena memang aku tak berhak untuk menyimpan namun entah rasa rasanya tak mudah untuk hilang,  masih tetap ku coba.. namun malah semakin sering membayang..

tentang hujan yang mengiringimu pulang..
tentang meja beton tempat kita berbincang..
tentang tanjakan yang menghadang..
tentang pemberhentian darurat menjelang malam..
tentang dua piring di tengah siang..
tentang jaket yang sering terlihat namun sekarang hilang..
tentang banyak waktu saat kita bersama dan itu hanya sementara..
tentang banyak benda yang mungkin kamu rasakan hanya biasa saja..

ah, jangan kamu perdulikan diriku kali ini, karena ini bagian dari sepenggal rasa yang mungkin tak ada jawabnya.. tak ada balasnya.. karena memang bukan pada tempatnya dan pada saatnya..

yang bisa ku pastikan dari diriku sekarang hanyalah tentang rasa rindu ini yang semakin menderu..

***
Samping Kasur Biru, 14.01.15 - 20:53
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
potongan dari kumpulan cerita fiksi yang random, bersudut pandang orang pertama, yang muncul tanpa direncana dan mengalir begitu saja.. semoga bisa menjadi sebuah kumpulan aksara yang menempel dalam himpunan kertas dan terjejer rapi di rak buku sana..

Agar Jangan Sampai Dikatakan

www.mengejarasa.com
Inilah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.
Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini,

Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..".
"Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.."
"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru,
lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Begitupun kita disini, di saat ini.. sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allahu Akbar.". La Illa ha Illa anta Subhanaka inni kuntu minadzdzalimin.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Penyejuk hati yang dikutip dari salah satu pesan muhasabah di Grup Whatsapp

Sarjana Rumah Tangga

www. mengejarasa.com
"ibumu sarjana apa?" Ibuku sarjana rumah tangga. Tak terbayang bukan, jika menjadi seorang ibu rumah tangga itu butuh kuliah dulu, aku tak tahu berapa lama yang harus ditempuh. Pastilah sangat panjang dan tidak terpikirkan.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Akuntansi, supaya bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengolahnya sedemikian rupa untuk kebutuhan, serta harus memikirkan tabungan ke depannya, dan memikirkan aspek pemasukan dan pengeluaran yang harus seimbang.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Tata Boga, chef, atau perhotelan.
Jurusan kuliah dimana harus belajar masak. Harus bisa membuat sarapan untuk keluarga dan membuat kreasi supaya tidak bosan, karena masakannya akan dimakan dalam waktu yang belum ditentukan.

 Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Pendidikan atau keguruan.
Dan inipun banyak macamnya. Ia harus menguasai ilmu-ilmu eksak, minimal dibagian dasar, karena ia harus mengajari anaknya ketika anaknya menemui kesulitan dengan PRnya di rumah.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Agama,
karena sepanjang hidupnya, untuk pertama kali ia yang akan mengenalkan sang anak pada penciptanya, pertama kali pada saat mengandung. Ia harus bias membujuk anaknya untuk shalat pertama kali, membelikan alat shalat kecil, dan membawanya ke masjid.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Ilmu Gizi, karena makanan dan baik dan gizi yang cukup akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Seorang ibu rumah tangga harus memperhatikan asupan gizi yang masuk ke keluarganya, setiap harinya.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Farmasi. Karena setiap kali anaknya sakit ia harus bisa menentukan obat apa yang ada di kotak obatnya yang dapat menyembuhkan anaknya. Ia harus menyetok obat-obatan yang biasanya manjur digunakan ketika darurat.

 Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Keperawatan, karena beliaulah satu- satunya yang akan pertama kali merawat buah cintanya ketika terbaring sakit. Yang akan menyeka tubuhnya ketika mandi tidak diperbolehkan, yang akan mengganti kompres beberapa jam sekali, atau mencek suhu badan sang anak ketika sakit. Seorang ibu rumah tangga adalah perawat yang handal luar biasa.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Kesehatan,
karena ia harus menjaga kesehatan keluarganya, dari asupan makanan, kebersihan, sampai melindungi anggota keluarga dr ancaman gigitan nyamuk.

Seorang ibu rumah tangga harus kuliah Psikologi. Karena ia harus bisa menebak apa yang anaknya mau, apa yang anaknya rasakan, apa yang harus diperbuatnya ketika anaknya remaja, bagaimana cara berkomunikasi dengan anak remaja, dan harus bisa jadi teman curhat terbaik anak.

sumber : Senjamu.tumblr.com
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Penyejuk hati yang dikutip dari salah satu pesan muhasabah di Grup Whatsapp