Re : Titik Tujuan

www.mengejarasa.com

Kemarin kamu bertanya kepadaku polos sekali, padahal kamu sudah tumbuh menjadi seorang laki laki yang umurnya sudah berkepala dua.. memiliki banyak amanah, mengemban beberapa pekerjaan.. mungkin kamu masih merasa kita masih seperti dulu, teman sepermainan di pekarangan dan lapangan.. 

“mengapa akhir akhir ini aku sering tertarik kepada perempuan yang kebetulan lewat di depanku? Padahal sebelumnya aku belum pernah seperti itu..” 

aku hanya bisa tersenyum.. karena aku tahu kamu sedikit memiliki teman perempuan, bisa dihitung dengan jari tangan dan aku salah satunya.. karena kita semenjak SD sampai SMA selalu bersama, entah berangkat atau pulang..

aku hanya bisa menjawab,

 “mungkin kamu selama ini terlindung dan terjaga karena dirimu berada dalam kotak, namun sekarang kamu sudah keluar dari kotak itu.. selamat datang di dunia, dunia yang sebenarnya.. dunia yang penuh dengan panah beracun, jebakan yang mudah menjerat, dan kaya dengan fitnah..”.

kamu bertanya lagi,

 “aku harus bagaimana?”

jawabku,

“Sebenarnya sederhana kawan, selama ini kamu sudah banyak sekali mencari bekal kehidupan, termasuk permasalahan yang kamu alami sekarang..  sekarang saatnya dilakukan apa yang sudah kamu pelajari.. mungkin juga kamu perlu titik yang bisa menjaga dirimu dan membuatmu terjaga, titik yang meneduhkan, titik yang menjadi satu-satunya tujuan untuk pulang" 

***
Meja perpus pasca gelap, 27 Mei 2015 - 18:56
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
potongan dari kumpulan cerita fiksi yang random, bersudut pandang orang pertama, yang muncul tanpa direncana dan mengalir begitu saja.. semoga bisa menjadi sebuah kumpulan aksara yang menempel dalam himpunan kertas dan terjejer rapi di rak buku sana..

Traumatika

www.mengejarasa.com

Bisa jadi aku adalah orang yang traumatis.. mudah kapok.. mudah menyerah.. mudah bosan.. ketika sudah pernah sekali tak ingin mencoba lagi.. barangkali inilah yang membuatku untuk tidak mengajak orang lain ke dalam kehidupanku.. bahkan kehidupan sehari-hari yang sederhana, seperti makan, jalan-jalan, beli buku, nonton film, belanja dan sebagainya.. aku merasa lebih nyaman sendiri.. 

alasan sederhana kenapa tidak mengajak cuma satu.. ditolak ! alasan sederhana yang sering membuatku trauma.. bisa jadi terlalu banyak berharap, waktunya tidak tepat, salah mengajak orang, mungkin juga karena kurang berdoa.. alasan utama adalah ditolak.. alasan lainnya yang mengikuti adalah banyak alasan ! ketika aku ajak mereka bilang ada ini lah.. ada itu lah.. ujung-ujungnya adalah wacana.. paling parah adalah ketika sudah mengiyakan namun pada akhirnya membatalkan tanpa alasan yang jelas, sepihak dan tanpa solusi.. 

alasan berikutnya adalah Menunggu ! ketika sudah iya dan sudah menentukan jam kapan kumpul, tempat kumpul dimana biasanya waktu kumpulnya molor, tempat kumpulnya berubah T-10 menit.. menurutku itu sangat menyebalkan.. molor 10 menit masih bisa ditoleransi jika ada konfirmasi.. namun kebanyak molor sampai 30 menit bahkan 1 jam dan tanpa konfimasi lagi..mungkin inilah alasan kenapa aku terbiasa sendiri.. cuci baju sendiri.. makan sendiri.. jalan-jalan sendiri.. aku merasa sendiri itu (masih) indah.. ketika kita bebas melangkah, tanpa ada beban untuk pekewuh bertingkah.. dalam hal sederhana di kehidupan saja aku masih belum bisa memasukkan orang lain..

selama ini yang setia dan mau diajak kemana saja hanyalah laptop saja.. bisa jadi penghibur.. rekan kerja.. rekan tertawa.. membantu banyak hal dan memang tiada duanya.. aku jarang bosan memandangnya, dan dia tak bosan juga memandangku.. ketika aku lelah memandangnya dan terlelap, dia masih tetap setia memandangku sampai dirinya sudah tak memiliki tenaga.. semoga kamu tetap sehat setiap harinya..

mungkin untuk memasukkan orang lain di kehidupanku yang lebih rumit aku akan benar-benar selektif.. dalam urusan makan saja aku belum bisa menemukan orang yang pas, apalagi urusan masa depan.. di kehidupan seringkali menerima itu lebih mudah daripada memberi.. namun masalah kehidupan dan masa depan dengan menerima "orang lain" di kehidupan kita itu lebih sulit daripada memberikan "diri kita" kepada orang lain.. sebenarnya sederhana, semua ini tentang waktu..

***
bersandar pada tiang perak, 10 Mei 2015 - 19:47
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
potongan dari kumpulan cerita fiksi yang random, bersudut pandang orang pertama, yang muncul tanpa direncana dan mengalir begitu saja.. semoga bisa menjadi sebuah kumpulan aksara yang menempel dalam himpunan kertas dan terjejer rapi di rak buku sana..

Solusi Tepat untuk Banjir dan Erosi

www.mengejarasa.com

Mengapa sekarang banyak sungai yang meluap? sebenarnya sederhana.. manusia sedang berlomba lomba membuang air ke laut.. coba kita lihat di depan rumah kita, banyak sekali beton yang menutup tanah kan? air mau tidak mau harus mengikuti perintah manusia, menggenang, mengalir melewati beton yang permukaannya tinggi ke permukaan yang rendah mengumpul di sana.. kalau masih ada jalan maka dia akan melata ke parit, berkongsi di sungai kecil, bermasyarakat di sungai besar.. hingga nantinya mereka akan berkumpul di laut..

namun ketika perjalanan mereka terganggu maka mereka akan berhenti dan mau tidak mau mereka harus menggenang.. menggantikan posisi beton atau aspal yang menutup tanah.. sehingga urutannya begini : tanah ditutup beton, beton ditutup air.. sehingga manusia yang tinggal diatasnya mendapatkan imbasnya, minimal membuka penutup betisnya atau pakaian bagian bawah akan basah karenanya.. yang paling parah adalah ketika air tersebut merendam harta bendanya, mencurinya, serta menutup atap rumahnya..

permasalahannya adalah keputusan seseorang, keputusan seseorang yang diiiyakan oleh orang lain kemudian banyak yang menirunya.. kebijakan supaya halaman rumah tidak becek salah satunya.. padahal untuk tidak becek bisa diakali dengan menanam rumput jepang.. selain warnanya menyejukkan namun dia juga membantu menyerap air yang dicurahkan oleh awan.. dulu depan rumahku inginnya ditanami rumput itu, sayangnya paving sudah lebih dahulu bercokol di sana.. nah itu adalah akal-akalan yang pertama..

akal-akalan yang kedua adalah mengganti beton atau paving dengan biopori.. bentuknya seperti paving.. namun memiliki lubang di permukaannya.. setidaknya masih ada air yang bisa masuk di sana.. sehingga tanah tetap berperan sebagai reservoir air.. ketika bipori sudah terpasang halaman depan rumah juga tidak becek serta ramah lingkungan..

akal-akalan yang ketiga adalah sebisa mungkin membuat beteng pada tanah yang miring.. sehingga air tidak menggerus tanah dan membuatnya erosi.. beteng pada tanah yang miring juga berfungsi sebagai tanggul air, menghalangi air sehingga tertahan dan tidak mengalir ke tempat lain serta air bisa meresap di sana.. insya Allah bisa membantu sumur supaya tidak kering..

akal-akalan yang keempat adalah ketika membuat parit yang disemen cukup dindingnya saja, untuk dasarnya biarkan berupa tanah.. sehingga masih ada air yang meresap.. ketika volume air yang diturunkan mendung tergolong besar maka ada sebagian air yang mengalir ke sungai dan ada yang meresap ke tanah.. selain itu tanah yang terbawa air tidak langsung terbawa ke sungai, mengendap di sana, dan mendangkalkan sungai.. namun masih mengendap di parit lalu bisa kita keruk, setelah itu bisa kita manfaatkan untuk berkebun.. tanah sedimen cukup subur lho, bisa juga kita tambahkan kompos atau humus..

akal-akalan yang kelima yaitu kita bisa memasang penyaring tanah di pintu pintu air.. sehingga tanah yang erosi bisa tertahan dan bisa kita manfaatkan lagi.. namun pori-porinya kita sesuaikan dengan debit air.. ketika salah ukuran bisa jadi malah menjadi penyumbat atau malah penyaring tanah kita jebol dan terbawa arus air.. coba cek aja berapa kubik tanah yang kita dapatkan ketika terjadi hujan selama 3 jam.. dan bayangkan ketika hujan terjadi setiap hari selama 3 bulan, berapakah volume tanah yang hilang dari gunung (misalnya) kemudian berpindah ke sungai dan mendangkalkannya..

***
Bawah Jendela, 8 Mei 2015 - 06:41 WIB

Kepastian Kesempatan

www.mengejarasa.com

ketika kamu hanya berani menduga maka kamu akan menyesal nantinya..
kenapa kamu tak bertanya? bukankah dia mampu menjawabnya?
ketika kamu hanya berani mengira-ngira maka kamu akan ragu menentukannya..
kenapa kamu tidak mengkonfirmasinya? bukankah itu akan membuatmu lebih lega..

kita ini sedang menunggu kepastian..
hanya saja kita tak punya keberanian..
hanya butuh mendekat..
karena kepastian hanyalah diam..
dia perlu dijemput..
dia perlu adanya pembicaraan..
menduga? hanya menimbulkan wacana..
menduga? hanya menimbulkan rencana..

mengapa tidak kita lakukan saja..
karena diam itu tak berguna..
kita tak boleh berpangku tangan..
sadarilah masih banyak angan..
angan yang perlu kita wujudkan

apa yang membuatmu takut untuk berkata?
apa yang membuatmu takut untuk jalan saja?
apakah ini tentang waktu?

sebenarnya kesempatan sudah menantimu..
hanya saja kamu beralasan menunggu waktu..
sebenarnya kesempatan dan waktu berjalan beriringan..
hanya saja kamu tidak memperhatikan..

***
Depan almari, 7 Mei 2015 - 22:43 WIB

Tumbuh Kembang

www.mengejarasa.com

banyak orang yang berkata bahwa buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya.. namun malam buah yang ku temukan berbeda.. dia ingin berkelana, berusaha tumbuh dan berkembang mandiri tanpa induk disampingnya.. walau harus terbawa air.. tergulung ombak dia akan berkelana sampai di daerah yang tepat dia menancapkan radikula, memunculkan plumula hingga akhirnya dia lebih tinggi dari induknya.. memiliki akar akar yang menghujam menjangkar.. batang kokoh nan menjulang.. daun hijau yang membuat rindang.. buah manis dan menyejukkan.. biji fertil dan mudah berkecambah..
hakekat jatuh bukanlah untuk tenggelam, bukan untuk terpendam..
berkembang dan berbiak adalah tujuan..
memberikan manfaat adalah akhir penantian..

berkembang sepertinya sederhana..
ketika kita memperhatikan dengan seksama..
berkembang adalah sebuah karya..
kita akan merasakan naik..
merasakan turun..
merasakan stagnan..

berkembang adalah proses mengenal..
berkembang adalah proses merencanakan..
berkembang adalah proses melaksanakan..
berkembang adalah proses evaluasi..
berkembang adalah proses mawas diri..
berkembang adalah proses mengeja..

hanya saja kita sering melupakannya..
jarang memperhatikannya..
bahwa berkembang adalah denyut kehidupan kita..
***
kamar utara, 07 Mei 2015 - 20:43 WIB

Kehidupan dan Kesempatan

www.mengejarasa.com

hakekat kehidupan adalah berlari.. ketika kamu hanya berjalan maka waktu akan mendahuluimu..ketika waktu sudah mendahuluimu maka kamu akan kehilangan kesempatan.. karena waktu tak akan menurunkan kecepatan kecuali kamu memacu dirimu untuk lebih cepat darinya.. berpacu dengan waktu memang melelahkan apalagi ketika kamu padukan dengan santai dan bermalas-malasan.. mau tidak mau kamu harus bergegas menambah kecepatan yang seharusnya tanpa batasan atau kamu tidak akan pernah mampu memperbaiki ketertinggalan..

pelan, sedang, cepat itu adalah pilihan.. mereka menawarkan fasilitas yang berbeda.. bisa jadi dengan cepat kita cepat pula akan selesai.. namun tak akan mendapatkan pelajaran yang lebi banyak.. bisa jadi dengan pelan kita akan lebih lama sampai, namun dengan pelajaran yang berharga.. namun pelan tidak menjamin kita akan terus berjalan tanpa fase berhenti di tengah perjalanan.. kuncinya adalah menjaga ritme.. 

ritme sangat dipengaruhi oleh mood.. mood dipengaruhi oleh orang orang yang berada di sekitar kita.. memilah orang disekitar kita sangatlah penting.. usahakan dalam setiap hari kita bertemu dengan orang yang menebar optimisme karena optimisme dalam diri kita seringkali tidak akan aktif ketika tidak di "senggol" oleh orang lain.. namun sebenarnya bisa sendiri tapi membutuhkan pendalaman yang cukup menguras waktu yang kita miliki..

ketika kesempatan itu mulai tenggelam janganlah berpikiran dunia kita akan menjadi kelam.. karena akan terbit kesempatan lain yang seringkali tidak kita duga.. hanya saja pesimisme lebih sering terbit dalam pikiran kita..sesungguhnya kesempatan itu kayak jodoh, namun selalu ada kepastian dan tidak bisa kita duga.. ketika kesempatan itu belum sesuai dengan keadaan kita berpikirlah secara sederhana saja bahwa itu bukanlah hak kita.. namun usaha tetaplah harus ada untuk menjemput kesempatan lainnya..

***
meja kecil, 16 April 2015 - 07:12 WIB